Loading

Informasi OPK

Tingkatan Data : Kabupaten
Tahun pendataan : 11 February 2026
Tahun verifikasi dan validasi : 16 December 2025
Entitas kebudayaan : OPK
Kategori : Keterampilan / Kemahiran dan Kerajinan

Detail OPK

Etnis : Aceh

Alamat OPK

Kabupaten/Kota : Kabupaten Aceh Timur
Kecamatan : Idi Rayeuk
Desa/Gampong : -
Alamat : -

Deskripsi Singkat

WBTb

Nama Lainnya : Bu Kulah

Bu Kulah merupakan salah satu karya budaya kuliner tradisional masyarakat Aceh yang hingga kini masih hidup dan dipraktikkan, khususnya di wilayah Aceh Timur dan kawasan pesisir serta pedalaman Aceh pada umumnya. Secara etimologis, istilah bu dalam bahasa Aceh berarti nasi, sedangkan kulah berarti bungkus. Dengan demikian, Bu Kulah dapat dimaknai sebagai nasi bungkus, namun bukan sekadar nasi yang dibungkus secara biasa, melainkan nasi yang dibentuk, dibungkus, dan disajikan dengan teknik, aturan, serta nilai simbolik yang diwariskan secara turun-temurun. Bu Kulah menjadi representasi pengetahuan tradisional masyarakat Aceh-Aceh Timur. dalam mengelola pangan, sekaligus mencerminkan hubungan erat antara makanan, adat istiadat, dan praktik keagamaan. Sejarah keberadaan Bu Kulah tidak dapat dipastikan secara kronologis dengan angka tahun tertentu, namun berdasarkan pengetahuan lisan dan kajian akademik, Bu Kulah telah dikenal dan dipraktikkan sejak masa lampau, bahkan diyakini telah ada sejak awal berkembangnya tradisi Islam di Aceh. Kehadiran Bu Kulah erat kaitannya dengan kebiasaan masyarakat Aceh Timur dalam menyelenggarakan kenduri, perayaan keagamaan, dan upacara adat. Dalam konteks ini, Bu Kulah tidak hanya berfungsi sebagai makanan pokok, tetapi juga sebagai simbol penghormatan kepada tamu, ungkapan rasa syukur, serta sarana mempererat hubungan sosial dalam masyarakat. Nilai utama yang terkandung dalam Bu Kulah adalah nilai kebersamaan dan gotong royong Serta kearifan lokal dengan menggunakan daun pisang alami. Proses pembuatan Bu Kulah umumnya dilakukan secara kolektif, melibatkan anggota keluarga dan masyarakat, terutama kaum perempuan. Aktivitas ini menjadi ruang transfer pengetahuan antar generasi, di mana keterampilan memilih bahan, mengolah nasi, menyiapkan daun pisang, hingga teknik melipat bungkus diajarkan secara langsung melalui praktik. Dengan demikian, Bu Kulah berfungsi sebagai media pewarisan pengetahuan tradisional yang bersifat nonformal namun berkelanjutan. Bu Kulah juga mengandung nilai filosofis dan simbolik. Bentuknya yang menyerupai limas atau piramida bermakna keseimbangan, keteraturan, dan harapan akan kehidupan yang harmonis. Bungkus daun pisang yang digunakan melambangkan kedekatan manusia dengan alam serta prinsip pemanfaatan sumber daya lokal secara bijaksana. Penggunaan daun pisang yang diasapi terlebih dahulu tidak hanya bertujuan teknis agar daun lentur dan tidak mudah sobek, tetapi juga memberikan aroma khas yang menjadi identitas Bu Kulah sebagai makanan tradisional Aceh. Tahap awal pembuatan Bu Kulah dimulai dari pemilihan bahan utama, yaitu beras berkualitas baik. Beras dimasak menjadi nasi putih yang pulen dan hangat. Dalam beberapa tradisi, nasi Bu Kulah dapat disajikan polos atau dipadukan dengan lauk khas seperti bu minyeuk (nasi minyak) atau lauk lainnya sesuai konteks acara adat. Sementara itu, daun pisang dipilih dari jenis yang lebar dan tidak mudah pecah. Daun pisang kemudian dipotong berbentuk persegi, lalu dilayukan dengan cara dipanaskan atau diasapi di atas api kecil hingga lentur dan mengeluarkan aroma harum. Tahap berikutnya adalah proses pembentukan dan pembungkusan. Daun pisang yang telah layu dilipat membentuk kerucut atau segi tiga berujung runcing. Nasi yang masih hangat dimasukkan ke dalam cetakan atau langsung dibentuk dengan tangan agar padat dan rapi. Setelah itu, nasi diletakkan di tengah lipatan daun, kemudian dibungkus dengan teknik khusus hingga membentuk Bu Kulah yang kokoh dan simetris. Bagian ujungnya biasanya disematkan dengan lidi atau tusuk kecil dari bambu agar bungkus tidak terbuka. Proses pembuatan Bu Kulah menuntut ketelitian, kesabaran, dan keterampilan khusus. Kesalahan dalam melipat daun atau mengatur kepadatan nasi dapat menyebabkan bentuk Bu Kulah tidak sempurna. Oleh karena itu, keterampilan ini biasanya dikuasai oleh perempuan-perempuan yang telah berpengalaman dan sering terlibat dalam kegiatan kenduri. Pengetahuan ini diwariskan secara lisan dan praktik langsung, menjadikannya bagian dari kearifan lokal yang hidup dalam keseharian masyarakat. Dalam konteks adat dan tradisi, Bu Kulah memiliki keterhubungan yang sangat erat dengan berbagai kegiatan ritual dan upacara. Bu Kulah hampir selalu hadir dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, kenduri blang (ritual pertanian), acara mee bu (tujuh bulanan kehamilan), peusijuek, serta resepsi perkawinan. Dalam acara-acara tersebut, Bu Kulah disajikan sebagai hidangan utama yang memiliki nilai simbolik lebih tinggi dibandingkan nasi biasa. Kehadirannya menandakan penghormatan tuan rumah kepada tamu dan kesungguhan dalam melaksanakan adat. Pada kegiatan kenduri blang, misalnya, Bu Kulah menjadi bagian dari hidangan yang disajikan setelah doa bersama sebagai ungkapan syukur atas kesuburan tanah dan harapan akan hasil panen yang melimpah. Dalam Maulid Nabi, Bu Kulah menjadi simbol kebersamaan dan kecintaan masyarakat kepada Nabi Muhammad SAW, sekaligus memperkuat ikatan sosial antarwarga. Dengan demikian, Bu Kulah tidak dapat dipisahkan dari sistem nilai religius dan adat masyarakat Aceh. Seiring perkembangan zaman, praktik pembuatan dan penyajian Bu Kulah mengalami tantangan akibat perubahan sosial, gaya hidup praktis, dan masuknya pola konsumsi modern seperti nasi kotak. Namun demikian, di beberapa wilayah Aceh Timur dan komunitas adat, Bu Kulah masih dipertahankan sebagai identitas budaya dan simbol kearifan lokal. Upaya pelestarian Bu Kulah tidak hanya penting sebagai perlindungan terhadap makanan tradisional, tetapi juga sebagai penjagaan pengetahuan tradisional, nilai sosial, dan filosofi hidup masyarakat Aceh. Dengan demikian, Bu Kulah merupakan karya budaya kuliner yang memiliki nilai sejarah, pengetahuan tradisional, filosofi, serta keterhubungan erat dengan adat istiadat dan ritual masyarakat Aceh Timur. Keberadaannya mencerminkan identitas budaya Aceh yang menjunjung tinggi kebersamaan, kesederhanaan, dan harmoni antara manusia, alam, dan nilai keagamaan. Pelestarian Bu Kulah sebagai Warisan Budaya Takbenda menjadi langkah penting dalam menjaga keberlanjutan pengetahuan dan tradisi kuliner Aceh untuk generasi mendatang. Cara Pembuatan : 1. Menyiapkan bahan utama, yaitu beras berkualitas baik yang dimasak hingga menjadi nasi putih pulen dan masih hangat. 2. Menyiapkan daun pisang, dipilih dari daun yang lebar dan tidak mudah pecah, kemudian dipotong berbentuk persegi. 3. Melayukan daun pisang dengan cara dipanaskan atau diasapi sebentar di atas api kecil agar lentur dan beraroma harum. 4. Membentuk daun pisang dengan melipatnya menjadi kerucut atau segitiga berujung runcing sebagai cetakan Bu Kulah. 5. Memasukkan nasi hangat ke dalam lipatan daun pisang, lalu dipadatkan menggunakan tangan atau cetakan agar bentuknya rapi dan kokoh. 6. Membungkus nasi dengan rapat mengikuti lipatan daun pisang hingga membentuk Bu Kulah. 7. Menyematkan lidi atau tusuk bambu pada bagian ujung bungkus agar tidak terbuka.