Loading

Informasi OPK

Tingkatan Data : Kabupaten
Tahun pendataan : 11 February 2026
Tahun verifikasi dan validasi : 04 November 2025
Entitas kebudayaan : OPK
Kategori : Tradisi dan Ekspresi Lisan

Detail OPK

Etnis : Aceh

Alamat OPK

Kabupaten/Kota : -
Kecamatan : -
Desa/Gampong : -
Alamat : -

Deskripsi Singkat

WBTb

Nama Lainnya : Hiem

Hiem secara umum dapat dipahami sebagai teka-teki. Hiem merupakan salah satu tradisi lisan yang di masa lalu sangat membumi di Aceh, tapi sekarang dia berjalan sebelah kaki atau istilahnya meuchen-chen dalam Bahasa Aceh, kadang-kadang reubah, beudoh lee lhom (kadang-kadang jatuh, bangkit lagi), antara hidup dan mati. Hiem adalah salah satu wujud tradisi lisan khas Aceh berupa seni adu pikir. Hiem hampir mirip seperti teka-teki, namun dalam budaya Aceh, hiem memiliki aturan seperti pantun atau dalam budaya meuhiem dikenal istilah bahasa meuhantok, yaitu bahasa yang saling beradu, ber-sajak dan ber-rima. Mari simak contoh berikut ini: koh lipah pula lipah pucôk jih reubah u dalam paya meunyoë hiem nyoë neupeuglah jadéh meunikah geutanyoë dua Tebang nipah tanam nipah Pucuknya rebah ke dalam kolam Kalau teka-teki ini bisa kanda jawab Jadilah kita menikah berdua Ta ek u gle koh bak jeumeureu keudeh tasadeu bak kaye raya blet kilat khum geulanteu kabeh meusiseu dalam blang raya Naik ke gunung tebang pohon jeumeureu Di sana tersandar kayu yang besar Berkelip kilat berdegum Guntur Berserakan semua ke seluruh sawah bak tajak-jak meuteumei situek bak ta duek-duek cob keu tima phop le dichen phop le di duek nyang keuh cangguek musem keanoeng sa Sambil berjalan-jalan mendapatkan situek Sambil duduk-duduk dijahit menjadi timba Phop dia melompat phop dia duduk Itulah Kodok di musim hujan Demikianlah seni bermain hiem, teka-teki disampaikan dengan urutan menantang dan membuat lawan tertarik menerima tantangan. Pertanyaan dibuat sedemikian rumit dalam wujud majas yang berkias. Di sinilah keindahan hiem dibuka. Contoh di atas menujukkan bentuk tantangan di bait pertama, lalu pertanyaan di bait kedua. Bila lawan tertarik dengan tantangannya maka ia akan lanjut memperhatikan bait lanjutannya. Di bait kedua, penanya memberi petunjuk dengan pohon dan tanda-tanda-tanda hujan. Sedangkan bait ketiga merupakan jawaban atas pertanyaan penantang. Dapat diperhatikan bahwa setiap baris dilengkapi bahasa meuhantok, dilengkapi dengan sajak dan rima sehingga Ketika disampaikan terasa indah didengarkan. Permainan ini dapat dimainkan seluruh umur, dari anak-anak hingga kakek-kakek. Hiem merupakan tradisi yang bernilai tinggi. Hiem tidak muncul dengan sendirinya, melainkan hasil dari sebuah proses penciptaan oleh para cerdik pandai di masa lalu. Banyak pihak meyakini bahwa permainan olah pikir ini mampu mengasah kemampuan berpikir kritis. Sebuah hiem diciptakan dengan metafora yang menyimpan fakta sebenarnya dengan mengekspos pembanding. Berikut salah satu contoh hiem sejuta umat yang hampir setiap ureung Aceh pernah mendengar dan memainkannya: Bak sibak ôn siôn Meuribèe thôn han jitem mala Batangnya sebatang daunnya selembar Beribu tahun tak akan layu Metafora adalah kiasan yang mengungkapkan ekspresi langsung dalam bentuk perbandingan analogis, penggunaan kata atau kelompok kata bukan arti sebenarnya. Inilah yang menjadi pondasi pemahaman dalam membangun hiem. Membuat hiem itu terdiri dari tiga Langkah: pertama, menentukan objek yang menjadi fokus hiem yang sekaligus menjadi jawaban; kedua, menginventarisir sifat, bentuk atau wujud benda yang unik dari objek dimaksud; ketiga, mencari metafora yang tepat untuk keunikan yang ditemukan. Metafora itulah yang terangkum dalam kalimat dengan pilihan kata yang baik. Kalimat bergaya metafora itu diramu bersama sajak dan rima yang kebanyakan orang mengistilahkan dengan kata berkias. Mari simak contoh hiem bertema arsitektur berikut ini: Na saboh cicem jipoe u Jeddah Gaki jih namblah sayeup jih dua Soe nyang ceudah Ci peuglah hiem nyoe wahee syedara Ada seekor burung terbang ke Jeddah Kakinya enambelas sayapnya dua Siapa yang cantik Coba selesaikan hiem ini wahai saudara Hiem di atas merupakan salah satu hiem dengan kiasan bernilai fungsi pendidikan. Jawaban hiem ini adalah rumoh Aceh. Seekor burung merupakan metafora dari pesawat terbang yang mampu terbang jauh hingga ke Jeddah. Mengapa ke Jeddah? Karena itu adalah negeri jauh yang sakral dan diimpikan oleh masyarakat Aceh yang umumnya adalah muslim. Orang Aceh memimpikan diri berangkat haji ke Baitullah. Paling penting dari clue hiem tersebut yaitu arah rumah Aceh yang selalu menghadap kiblat. Kakinya enambelas dianalogikan sebagai tiang rumah Aceh yang terdiri dari enam belas tiang. Sayapnya dua yaitu sayap rumah yang memiliki serambi kiri dan kanan. Lalu menggunakan cantik untuk menantang lawan, ini bukan berarti bahwa lawan bermain hiem adalah perempuan, akan tetapi lebih cenderung dikarenakan rumah adalah area penguasaan kaum perempuan. Ada banyak sekali hiem yang sudah tercipta lintas zaman tersampaikan dari generasi ke generasi. Namun jumlahnya tentu semakin berkurang dari masa ke masa. Ada yang bertahan namun banyak pula yang meghilang dari ingatan kolektif masyarakat seiring dengan menghilangnya objek yang di-hiem-kan. Contoh hiem yang kemungkinan akan benar-benar hilang yaitu: Nyoe pat na hiem bak lon saboh Tapham beujroh taboeh makna Bak jih sibak on jih saboh Han tom soe koh siumue masa Ini ada hiem satu dari saya Pahami dengan baik berikan makna Batangnya satu daunnya satu Tak pernah ada yang tebang seumur masa Jawabannya adalah langai (alat tradisional untuk membajak sawah). Ketika langai ini tidak lagi digunakan, generasi muda menjadi tidak mengenal objek ini berganti dengan traktor, maka dengan sendirinya hiem ini berpotensi hilang selamanya. Bila perbendaharaan hiem punya potensi hilang, maka sebaliknya hiem juga berpotensi untuk diciptakan dalam konteks kekinian. Di era modern seperti sekarang ini ada banyak objek yang muncul dengan perubahan yang sangat cepat. Dalam pelaksanaan kegiatan Kontes Hiem Virtual yang ditayangkan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh secara langsung melalui kanal youtube, beberapa peserta mengajukan hiem yang baru diciptakan dalam konteks kekinian. Berikut beberapa di antaranya: (1) Ulee na jaroe gaki tan Tamat bak takue ho tabahue Watee tai’em teuiem Watee tadhoet jidheut balek Cukop that ceureudek buatan manusia Kepala ada kaki tiada Pegang di leher kemana pun ditarik Ketika kita diam dia diam Ketika diteriaki dia balas berteriak Cukup cerdik buatan manusia Jawabannya: Microphone atau pengeras suara (2) Dua dong dong lumpat Timue ngon barat sesoe mata Babah jitron bak tapak Geulinyung meugrak teuduek bak muka Pue tra? Dua berdiri melompat Timur dan barat mata jelalatan Mulutnya turun ke telapak kaki Telinga bergerak duduknya di muka Apakah itu? Jawabannya: handphone atau gawai (3) Pruet meupuntie ulee meuteughon Nyawong bak jaroe ma Hek jimoe meurawong-rawong Hana soe tulong aneuk durhaka Perut berputar kepala tertekan Nyawa di tangan ibu Lelah menangis meraung-raung Tiada penolong anak durhaka Jawabannya: blender atau alat elektronik penggiling bahan makanan/minuman. Ketiga hiem di atas menunjukkan bahwa masih ada generasi muda yang menguasai proses penciptaan hiem meskipun metafora yang digunakan belum seindah dan serapi para indatu. Setidaknya kehadirannya menyadarkan kita bahwa hiem masih memiliki penerus dengan deskripsi objek yang lebih dekat dengan mereka. Proses berpikir kritis yang menjadi nyawa hiem yang terdiri dari tahap berpikir untuk menciptakan lalu lanjut ke tahap berinovasi sudah tampak dijalankan dengan baik. Yang masih lemah adalah dalam mempertahankan sajak dan rima yang sudah menjadi ciri khas hiem yang memanjakan pendengaran penikmatnya. Apa yang penting adalah upaya mempertahankan fungsi hiem sebagaimana yang diuraikan oleh Mohd. Harun dalam artikel hasil kajiannya yang menyebutkan bahwa: Hiem merupakan produk masyarakat dan milik bersama. Ia memiliki beragam fungsi. Paling kurang, ada lima fungsi hiem, yaitu (1) sebagai sarana perekat komunikasi yang harmonis, (2) sebagai sarana kreasi (berpikir kritis dan kreatif) untuk mengasah ketajaman berpikir, (3) sebagai sarana rekreasi (hiburan), (4) sebagai sarana pendidikan, (5) sebagai sarana kritik sosial, dan (6) sebagai sarana re-kreasi. Keenam fungsi tersebut disampaikan sesuai dengan karakteristik masyarakat pemilik teka-teki. Hiem adalah permainan olah pikir warisan indatu yang seyogyanya kita pertahankan dan lestarikan untuk diteruskan kepada setiap generasi. Sepakat, hiem ternyata dapat membantu menanamkan kebiasaan berpikir kritis untuk belajar mendeskripsikan, mempertahankan pendapat, menjunjung sportifitas serta menjalin hubungan sosial dengan baik. Sayang sekali bila kekayaan budaya yang menyasar kecerdasan berpikir ini dibiarkan hilang begitu saja.