Loading

Informasi WBTb

Tingkatan Data : Provinsi
Tahun pendataan : 01 January 2023
Tahun verifikasi dan validasi : 01 January 2023
Tahun penetapan : 01 January 2023
Sebaran kabupaten/kota : Kabupaten Aceh Tamiang.
Entitas kebudayaan : WBTB
Domain WBTb UNESCO : Adat Istiadat Masyarakat, Ritus, dan Perayaan-Perayaan
Kategori WBTb UNESCO : Upacara/Ritus
Nama objek OPK : Rateb Beujalan

Identitas Warisan Budaya Takbenda

Wilayah atau level administrasi : Provinsi
Kondisi sekarang : Masih Bertahan

Alamat Warisan Budaya Takbenda

Kabupaten/Kota : Kabupaten Aceh Tamiang

Deskripsi Warisan Budaya Takbenda

Updaya pelestarian : perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, pembinaan
Referensi : -

Penerimaan Formulir Warisan Budaya Takbenda

Tanggal penerimaan formulir : -
Tempat penerimaan formulir : -
Nama petugas penerimaan formulir : -

Nama Lembaya Budaya

Nama lembaga : -

Nama SDM Kebudayaan

Nama lembaga : -

Deskripsi Singkat

WBTb

Nama Lainnya : Rateb Beujalan

Tamiang masih memegang teguh adat istiadat yang ada, salah satunya adalah tradisi yang biasa dilakukan di penghujung bulan Safar atau yang dikenal dengan “Rabu Habih” yang berarti Hari Rabu terakhir di bulan Safar yang dilaksanakan oleh masyarakat Tamiang dengan tujuan untuk menghindari kejadian buruk, sial, nasib tidak baik yang dianggap sebagai bencana. Tradisi ini dikenal dengan sebutan Rateb Berjalan. Menurut cerita datu nini (kakek nenek) di Tamiang, pada zaman dahulu nenek moyangnya masyarakat Tamiang pernah mengalami serangan wabah penyakit dan gagal panen di satu waktu, keadaan ini sangat berdampak buruh terhadap seluruh masyarakat, sehingga masyarakat pada saat itu berembuk untuk melaksanakan zikir sambil berjalan mengelilingi desa dengan membaca kalimat tauhid yang dianggap salah satu opsi terbaik sebagai usaha membersihkan kampung dari segala bencana dan marabahaya. Upaya ini dilakukan pada bulan safar yaitu bulan kedua dalam kalender hijriyah. Hal ini dikarenakan bulan safar dipercayai masyarakat setempat sebagai bulan yang “panas” sehingga rentan mengalami kejadian buruk atau dekat dengan kesialan. Sejak saat itu, Tradisi Rateb Berjalan dilakukan secara rutin untuk menghindarkan kampung dari berbagai penyakit, marabahaya atau hal-hal yang tidak dikehendaki melalui zikir dan doa untuk memohon kepada Sang Maha Kuasa atas segala makhluk-Nya. Ritual Rateb Berjalan terdiri atas beberapa tahapan. Tahapan tersebut dimulai dengan musyawarah yang diperuntukkan sebagai awal proses persiapan. Setelah mengadakan musyawarah maka kepala adat, pawang laut, serta panitia dan perangkat desa menyepakati dan menetapkan titik pusat lokasi penyelenggaraan ritual serta tempat pelaksanaan kendurinya. Sementara rute perjalanan dalam ritual ini harus mencapai batas kampung. Hal ini dimaksudkan untuk mengusir pengaruh jahat dari kampung. Ritual ini dilakukan selama 3 malam berturut-turut. Rateb Berjalan adalah ritual yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan cara membacakan zikir, tahmid dan kalimat-kalimat tauhid sambil berjalan pada malam hari setelah shalat isya secara bersama-sama di sepanjang jalan kampung. Rateb Berjalan hanya dilakukan oleh kaum laki-laki, perempuan tidak terlibat secara langsung dalam ritual ini. Saat pelaksanaan Rateb Berjalan, kampung harus dalam keadaan gelap dan senyap. Seluruh masyarakat diimbau untuk tidak menyalakan penerang apapun kecuali dalam bentuk obor. Suasana juga dikondisikan tenang hingga pelaksanaan ritual usai. Kaum perempuan biasanya secara mandiri bertugas sebagai penyedia konsumsi. Para ibu biasanya membuat panganan yang diletakkan di area depan rumah yang dilewati para peserta Rateb berjalan dan mudah dijangkau dengan cepat. Ada yang menggantungnya di pagar, ada pula yang sengaja menempatkan meja kecil di depan, dan sebagainya. Karena kendati disebut Rateb Berjalan, Gerakan berjalan dimaksud pada praktiknya ritmenya cukup cepat seperti berlari-lari kecil. Makna simbol yang tidak terekspresikan oleh kata-kata dapat diamati melalui perlengkapan ritual seperti bendera, cambuk, obor. Bendera atau dalam hal ini disebut panji-panji dibuat dari kain putih berlafadzhkan Laillahaillallah yang ditulis dengan menggunakan spidol oleh imam kampung. Cambuk dibuat dari lidi yang dililitkan menyerong dengan rumput tetemi, jenis rumput yang banyak tumbuh di Tamiang. Sedangkan obor adalah alat penerang sederhana yang dipakai untuk mengantarkan kelompuk orang menuju ke tempat tujuan yang bersih dan bebas dari penyakit dan marabahaya. Para peserta Rateb Berjalan adalah para sukarelawan, para warga laki-laki berbagai usia yang sehat fisik dan mentalnya untuk menjalani ritual dimaksud. Mereka diharuskan dalam keadaan bersih. Ritual dimulai usai shalat Isya berjamaah dimasjid lalu bergerak ke titik kumpul. Rateb dipimpin oleh seorang syeh yang berpakaian serba putih yang berarti simbol kesucian dan khalifah yang siap memimpin prajuritnya menghalau roh-roh jahat dari daerah yang dilindunginya. Perjalanan yang dianggap sebagai simbol jihad itu dilakukan dari ujung batas masuk kampung hingga ke ujung batas keluar kampung. Aktivitas ini merupakan simbol menyiram, menyapu dan bersih-bersih kampung yang media pembersihnya adalah doa, zikir, tahmid dan kalimat-kalimat tauhid yang dipercaya ditakuti oleh roh-roh dan makhluk-makhluk jahat, sehingga tatkala suara- suara itu terdengar semakin khidmat maka kejahatan itu pun akan kabur dari kampung tersebut. Setelah ritual usai para peserta berkumpul di titik kenduri yang telah disepakati untuk beristirahat bersama sembari mencicipi makanan yang telah diambil dari rumah-rumah warga yang dilewati di sepanjang rute perjalanan Rateb tadi. Setelah semua usai para peserta Rateb diingatkan kembali untuk pelaksanaan malam ke-2 dan ke-3 agar ritual terlaksana tuntas. Bila Rateb Berjalan dilaksanakan oleh beberapa kampung sekaligus maka setiap warga masing-masing kampung menunggu di gerbang batas masuk kampung. Rateb Berjalan berlangsung secara estafet di masing-masing kampung. Diawali oleh Kampung terjauh dari laut dan diakhiri oleh kampung terdekat dengan laut. Pengusiran roh jahat ini diarahkan untuk dibuang ke laut. Oleh sebab itu, akhir dari ritual ini disambut dengan upacara kenduri laut yang dipimpin oleh pawang laut. Kenduri Laut inilah yang menjadi penanda tuntasnya ritual Rateb Berjalan.