| Tingkatan Data | : | - |
| Tahun pendataan | : | 11 February 2026 |
| Tahun verifikasi dan validasi | : | 11 February 2026 |
| Tahun penetapan | : | 01 January 2024 |
| Sebaran kabupaten/kota | : | Kota Banda Aceh. |
| Entitas kebudayaan | : | WBTB |
| Domain WBTb UNESCO | : | Tradisi dan Ekspresi Lisan |
| Kategori WBTb UNESCO | : | Tradisi Lisan |
| Nama objek OPK | : | - |
| Wilayah atau level administrasi | : | Provinsi |
| Kondisi sekarang | : | Sudah Berkurang |
| Kabupaten/Kota | : | Kota Banda Aceh |
| Updaya pelestarian | : | Dokumentasi, Pendidikan, Pengajaran, Penggunaan Teknologi |
| Referensi | : | - |
| Tanggal penerimaan formulir | : | - |
| Tempat penerimaan formulir | : | - |
| Nama petugas penerimaan formulir | : | - |
| Nama lembaga | : | - |
| Nama lembaga | : | - |
WBTb
Nama Lainnya : Seumapa
nomor sertifikat: 2022/Dit.PK/sertifikat/2024 Seumapa adalah ungkapan saling menyapa dalam masyarakat Aceh antara satu pihak dengan pihak lain yang dilakukan pada sebuah acara adat perkawinan, terutama pada saat ‘intat linto’, yaitu prosesi mengantar pengantin laki-laki ke rumah dara baro (pengantin perempuan). Seumapa biasanya berisi pantun yang dimaksudkan untuk saling memberi salam, sapa dan bertukar informasi antara pihak linto baro (pengantin laki laki) dengan pihak dara baro (pengantin perempuan). Istilah seumapa di Aceh ada bermacam-macam sesuai dengan bahasa yang digunakan oleh daerah masing-masing. Di Simeulue, istilah seumapa disebut dengan menjelang di kampung-kampung dan mengiau tafeng; di daerah kluet menyebut dengan istilah makato’; di Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Tenggara, Gayo Lues menyebut dengan istilah melengkan; Aceh Taming menyebut dengan istilah “berbalas pantun”; sedangkan etnis Jamee di pesisir barat Aceh menggunakan istilah bakaba. Akan tetapi umumnya daerah2 yang menggunakan bahasa Aceh baik di pesisir timur maupun barat memakai istilah yang sama yaitu: Seumapa. Prosesi seumapa dilakukan saling berhadapan dengan berbalas pantun, seakan-akan terjadi perang mulut dengan bahasa bersajak, kocak, lucu dan indah didengar. Masing masing pihak telah ditentukan orang yang mampu dalam hal berbalas pantun. Tokoh yang tampil dalam seumapa ini tentu saja orang yang khusus dan bijak dalam mengeluarkan kata-kata dan pribahasa. Kegiatan seumapa tersebut dimulai dari pihak linto baro dan selanjutnya dijawab oleh pihak dara baro. Pantun dan sajak yang dilontarkan tetap dalam koridor adat perkawinan dan tentang perjanjian-perjanjian kedua pihak dan juga tentang agama, tidak menyimpang dengan kata dan bahasa lain, misalnya politik, pornografi, hasut-menghasut, fitnah, atau mencaci yang dapat merusak ukhuwah dan silaturahmi. Walau terkadang ada kata-kata yang miring, tapi cukup teliti dan tidak menyinggung kedua belah pihak. Seiring dengan perkembangan zaman, seumapa dahulu daengan sekarang sudah banyak perubahan. Dahulu seumapa dilakukan pada malam hari karena acara intat linto waktu itu dilakukan malam hari, namun sekarang dilakukan di siang hari dengan alasan sama yaitu mengikuti prosesi intat linto yang kini juga dilakukan di siang hari. Dahulu orang yang menjadi tokoh seumapa ada yang tidak saling kenal dan sekarng pada umumnya sudah saling kenal bahkan satu grup yang diundang khusus oleh pihak dara baro. Menurut Maestro Seni Seumapa, Media Hus, Seumapa sesungguhnya bukan hanya diperuntukkan prosesi intat linto semata. Seumapa digunakan untuk banyak keperluan semisal prosesi adat syukuran, sunatan, begitu pula dengan saat manusia berhadapan dengan alam. Seumapa disampaikan ketika seseorang akan memasuki kawasan hutan, kebun, dan sebagainya. Indatu orang Aceh meyakini bahwa sebenarnya alam itu memiliki pemilik yang kasat mata. Sehingga ada adab ketika masuk ke wilayah tertentu diharuskan menyapa yang dalam hal ini disampaikan melalui tradisi seumapa. Itulah sebabnya Seumapa sering tampil dalam upacara Khanduri Blang, Khanduri Laot, Khanduri Uteuen, dan sebagainya. Menurut Medya Hus yang merupakan staf pada Majelis Adat Aceh, tradisi seumapa ini sudah ada sejak masa kepemimpinan Iskandar Muda Meukuta Alam. Seumapa sejak dulu hadir dalam upacara dalam kesultanan, selain sebagai adab dan seni, seumapa juga dipandang sebagai tradisi lisan yang bernilai hiburan sehingga seumapa juga kerap dihadirkan dalam kegiatan Kerajaan yang sering mengadakan pertemuan dengan banyak pihak. Seumapa biasanya hadir sebagai simbol kehormatan, bahwa sultan sangat menghormati tamunya. Dalam sebuah wawancara disebutkan bahwa Medya Hus sendiri, selaku Maestro Seumapa yang usianya sudah lebih dari setengah abad, sudah melihat generasi orang tuanya terdahulu dan generasi kakeknya melaksanakan Seumapa di zamannya. Bahkan saat itu Seumapa menjadi hal yang wajib dalam upacara adat. Saat itu Medya Hus menyaksikannya di Aceh Jaya. Medya Hus adalah salah satu maestro tradisi lisan Aceh yang telah mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan tradisi lisan Aceh. Ia sudah belajar berbagai jenis tradisi lisan sejak kecil, dari ayahnya. Ia sudah tampil sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Awalnya ia mempelajari syair Seudati dilatih oleh ayahnya, namun kemudian minat yang besar terhadap tradisi lisan terus berkembang. Ia menguasai Hikayat, Seumapa, Ca’e, Nadham, dan sebagainya. Di usia remaja ia mengumpulkan temantemannya dan mendirikan sanggar seni agar dapat bersama-sama mempelajari dan berlatih tradisi lisan. Sempat terhenti aktivitas sanggarnya karena konflik, namun itu tidak menyurutkan semangatnya melestarikan seni tutur Aceh tersebut. Hingga kini, diusianya yang sudah tak muda lagi (60-an tahun) ia telah banyak mendidik generasi-generasi muda yang berminat menguasai tradisi lisan Aceh. Medya Hus menulis banyak sekali buku tentang tradisi lisan, termasuk seumapa yang membuatnya popular dengan sebutan Maestro Seumapa. Sampai saat ini ia juga masih aktif mengajar di Institit Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, mengasuh mata kuliah tradisi lisan. Selain itu, sebagai upaya kekinian pelestarian Seumapa, ia juga aktif mempublikasi karya dan aktivitasnya melalui platform media sosial yang menurutnya lebih mudah masuk dalam ruang pantauan generasi muda. Kepiawaiannya, penguasaannya dan kepopulerannya menuturkan Seumapa, mengantarkannya dinobatkan sebagai Maestro oleh Pemerintah Aceh. Pihak I Assalamu׳alaikum ulôn bi saleum Keurakan bandum tuha ngon muda Kamoe nyang teuka cit ka trôh bak leuen Keuchik ngon Imum ketua pemuda Ureueng Tuha gampông langsông trôh mandum Meutinggai mideun keunoe meuteuka Inöng ngon Agam rakan ngon kumuen Adoe ngon aduen waréh syédara Jak intat lintô bak judô buleuen Bèk lé meulanteuen janji meutuka Adat bak dônya ka tapeurumeun Reusam ngon Qanun kakamoe jaga Ranup kuneng ôn meususôn rubeueng Tawô bak abeueng bak lampôh tuha Jurông neubuka sigra bi ruweueng Bèk lé neu ampeueng kamoe di lua. Pihak II 'Alaikumsalam warah matullah Jamèe trôh langkah cukôp mulia Tika kameuleueng bak seueng nyang luah Katrép meuleupah prèh jamèe teuka Ureung tuha Gampông nyang dong meusiblah Nyoe pat deuh jeulah tuha ngon muda Dikawôm Hawa meubanja leupah Ngon payông teuhah prèh Lintô muda Yôh bunoe jurông langsông yue peuhah Keuneuk meulangkah dalam istana Lintô nyang neuba nyan citka jeulah Bak putroe ceudah meusandéng dua Bungöng lam taman keumang si ulah Cukôp that ceudah lam keubôn raja Pakon jeuet teulat meuhat trôh langkah Peue na musibah bak Jalan raya? Kamoe kabunoe hate that susah Peue hana jadeh linto neujak ba Sabab meujanji bak jeuem poh siploh Oh watee katroh karap poh dua Seumapa yang difungsikan sebagai permulaan penerima tamu, seperti halnya Tradisi Palang Pintu dalam adat Betawi, dilakukan di depan pintu masuk rumah penerima tamu. Tamu seolah-olah dihadang dan diberi tantangan sebelum akhirnya diizinkan masuk ke arena acara atau ke dalam rumah. Dalam hal ini Seumapa dipersiapkan oleh masingmasing Seumapa yang difungsikan sebagai permulaan penerima tamu, seperti halnya Tradisi Palang Pintu dalam adat Betawi, dilakukan di depan pintu masuk rumah penerima tamu. Tamu seolah-olah dihadang dan diberi tantangan sebelum akhirnya diizinkan masuk ke arena acara atau ke dalam rumah. Dalam hal ini Seumapa dipersiapkan oleh masingmasing pihak baik pihak tamu maupun pihak tuan rumah. Untuk dapat meneruskan kegiatan adat, maka pihak tamu harus dapat mengalahkan Seumapa dari pihak tuan rumah. Upacara pernikahan tentu bukan satu-satunya tempat untuk pemanfaatan Seumapa, dalam upacara lainnya seumapa juga dapat berupa pujian dan nasehat bahkan dialog untuk pendidikan. Seumapa dilantunkan dalam syair yang mudah dipahami oleh masyarakat Seperti yang terlihat dalam video berjudul "Seumapa: Seni Tutur Tradisi Aceh", seni tutur ini ditampilkan melalui syair yang dilantunkan oleh dua orang yang sedang bercakap-cakap. Dalam penampilan tersebut, mereka membahas wabah Covid-19 yang sedang melanda kampung mereka. Dialog dilakukan dengan cara berbalas pantun sambil menyampaikan nasihat-nasihat yang bermanfaat bagi masyarakat. Dari situ dapat disimpulkan bahwa Seumapa merupakan bentuk ekspresi budaya yang fleksibel dan dapat dilakukan di mana saja. Tidak terbatas pada upacara adat, Seumapa juga bisa muncul dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, para petani di sawah dapat secara spontan melantunkan Seumapa untuk memuji Allah agar dimudahkan dalam mengerjakan sawah, atau untuk saling menyemangati antar sesama petani. Hal ini menunjukkan bahwa Seumapa merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat Aceh. Namun demikian, belum banyak referensi yang secara khusus menjelaskan keberadaan dan asal-usul Seumapa. Sebagai tradisi lisan, para pelaku dan pengamat budaya cenderung lebih fokus menginventarisasi syair-syairnya, daripada menelusuri asal mula kemunculannya. Ke depan, hal ini menjadi masukan penting agar segera dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai sejarah dan perkembangan Seumapa di Aceh, termasuk kapan tradisi ini mulai digunakan dalam upacara adat. Meski demikian, jika dilihat dari bait-bait pantun Seumapa yang sering memuat pujian kepada Sultan Iskandar Muda, banyak budayawan Aceh meyakini bahwa Seumapa telah digunakan sejak dahulu kala dalam penyelenggaraan adat di lingkungan Kerajaan Aceh.