budayaaceh.com, Banda Aceh - Masjid Raya Baiturrahman (MRB), merupakan ikon sekaligus jantung spiritual bagi masyarakat Aceh yang kini tengah menapaki langkah penting untuk diakui oleh dunia. Hal ini menjadi salah satu harapan besar bagi Aceh untuk menduniakan peninggalan bangunan bersejarah tersebut.
Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh adalah sebuah bangunan monumental yang menjadi simbol keagungan Islam, budaya, perjuangan, dan nasionalisme masyarakat Aceh. Sejarahnya yang kaya, arsitekturnya yang unik, dan ketangguhannya dalam menghadapi bencana alam menjadikannya salah satu masjid paling ikonik di Asia Tenggara.
Pada November 2025, masjid bersejarah ini secara resmi memasuki tahap akhir untuk ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional, yang merupakan syarat mutlak sebelum diusulkan ke UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia (World Heritage Site).
Mengapa Masjid Raya Baiturrahman Layak Menjadi Warisan Dunia?
Ada beberapa alasan kuat mengapa MRB dianggap pantas menyandang status warisan dunia yaitu:
Harapan bagi Masyarakat Aceh
Pengusulan ini bukan sekadar mengejar status internasional, melainkan bentuk pelestarian terhadap identitas bangsa. Jika berhasil masuk dalam daftar warisan dunia UNESCO, Masjid Raya Baiturrahman akan mendapatkan perlindungan internasional yang lebih ketat serta perhatian dunia sebagai destinasi wisata religi global.
Dengan dukungan penuh dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah Aceh, masyarakat berharap Masjid Raya Baiturrahman segera menyusul kesuksesan Tari Saman yang telah lebih dulu diakui dunia, membawa nama harum Aceh di panggung kebudayaan internasional pada tahun 2026 mendatang.
Sejarah Pembangunan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh
Dari beragam sumber, terdapat dua versi pendapat terhadap pendirian bangunan Masjid Raya Baiturrahman (MRB) Banda Aceh. Versi pertama menyebutkan masjid ini dibangun oleh Sultan Alaidin Mahmud Syah I pada tahun 1292 M dan versi kedua, yang lebih populer, menyebutkan masjid ini dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1612 M.
Adapun fungsi awal dari bangunan tersebut, selain sebagai tempat ibadah, masjid asli berfungsi sebagai pusat pendidikan Islam di Nusantara (ilmu agama, politik, dan hukum) serta markas pertahanan.
Arsitek dan Gaya Bangunan
Bangunan bersejarah ini dirancang oleh arsitek Belanda Gerrit Bruins dengan kontraktor Lie A Sie, dengan menerapkan gaya arsitekturnya dari gaya tradisional Aceh menjadi gaya Indo-Saracenic (Mughal) yang ditandai dengan kubah besar dan menara.
Kemudian pada Mei 2017, Pemerintah Aceh melakukan renovasi besar pada lanskap masjid. Halaman yang semula rumput diganti dengan lantai marmer dan dilengkapi dengan 12 payung elektrik raksasa yang menyerupai Masjid Nabawi di Madinah. (Admin)